Gone [Part 1]

GONE
[part 1] Teuki and Shin Min rae series
Cast      : Leeteuk, Shin Min Rae, member Super Junior
Author : Park Eun Ni

Terinspirasi dari acara Hello Baby dan yang terbaru adalah We Got Married yg sedang diikuti Teuki oppa. Ni fan fiction adalah tumpahan ketidak relaan aku dia mengikuti acara we got married berpasangan ma kang Sora. Ok, Im just fan and Im just wanna said about my opinion. Just it, and no more… :p

But, sukses terus buat Teuki oppa… mungkin series ini yang terakhir akan ku buat dengan main cast dia. Hehehe…udah waktunya aku ganti bias, jeng jeng jeng…. ^^

Chek this out, and pliz say what do u feel when u read it..gomawo

Aku segera bergegas menuju tempat ganti  pakaian, tak ku perhatikan orang-orang yang menatapku dengan heran. Aku tak peduli lagi, Min Rae kau tak boleh menangis. 

 

Hanya itu yang bisa aku lakukan agar aku bisa menahan air mata yang  seakan ingin jatuh dan mengalir dengan deras ini. Tanpa ku sadari aku telah sampai di depan ruangan itu, ku hela nafasku dalam-dalam dan kuhembuskan.
Ku buka pintu ruangan itu dengan keyakinan……

“Min Rae-ssi?, annyeong”, kata Yesung Oppa menyapaku.

 

“Annyeong  oppa”, jawabku dan kemudian mengalihkan pandangan ke sekitar untuk melihat apakah dia ada di sini.

“Kau mencari Teuki hyung?”, tanya Sungmin oppa.              
 
Sebelum q sempat menjawab pertanyaan Sungmin oppa, tiba2 saja pintu ruangan itu terbuka. 
Aku menoleh, dan melihat dia…ya Teuki oppa, suamiku yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan suamiku >.<

“Huah melelahkan sekali interview hari ini, semoga respon penonton bagus”, kata dia sambil duduk dan meminum sebotol air mineral yang di dapatnya di atas meja. 

Ku rasa dia belum menyadari keberadaan ku sampai Wookie oppa meminta dia untuk mengalihkan pandangan ke arahku.

“Oh, chagi.. mworaguo?”, kata dia.

“ada masalahkah?”, lanjutnya sambil berdiri dan kemudian berjalan mendekatiku.

“Oppa, ada yang ingin aku katakan. Tapi akan lebih baik kalau empat mata saja”, kataku sambil memandang semua orang yang ada di dalam ruangan itu.

Seolah-olah mereka semua menyadari keinginanku, mereka meninggalkan ruangan itu hampir secara bersamaan.

“Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin”, ucap Eunhyuk oppa sebelum menutup pintu ruangan dan pergi keluar mengikuti yang lain.

“Ye oppa, gomawo”, jawabku yang aku yakin dia belum sempat mendengarnya.

Wajah suamiku seperti kebingungan, tapi aku yakin dia tahu pasti kemana arah pembicaraan ini akan ku bawa.

“Chagi, kau tau kan ini hanya….”, sebelum dia sempat meneruskan perkataannya aku sudah memotongnya dulu.
“Oppa, duduklah..keliatannya kau begitu kelelahan”, ucapku dengan lembut.

Wajahnya benar-benar kebingungan, dan sepertinya aku akan tertawa karena hal yang tidak lucu ini.
“Ani, bagaimana aku bisa duduk kalo kau hanya berdiri juga chagi”, jawabnya.

“Baiklah, mari kita bersama-sama duduk”, jawabku.

Kami berdua duduk meskipun tidak berdekatan, kemudian aku mengambil sesuatu dari tas yang aku bawa. Ku berikan benda itu kepadanya.

“Apa ini?”, tanyanya.
“itu sesuatu yang kita butuhkan saat ini oppa”, ucapku sambil menghela nafas dalam-dalam. 
Entah kenapa aku merasakan suhu ruangan ini seolah-olah memanas dan itu benar-benar membuatku tidak nyaman.

“Bukalah”, kataku lagi saat sempat aku melihat dia masih ragu dan menatap amplop itu.

“Itu surat perceraian kita oppa, aku ingin kita bercerai”, ucapku datar.

“Mwo? Kau sudah gila chagi?”, tanya Teuki oppa padaku.

“Ye, dan aku mungkin akan benar-benar gila kalau aku masih terus menjadi istrimu oppa”, ucapku padanya.
“Andwee, aku tidak ingin berpisah apalagi bercerai denganmu chagi”, kata dia sambil mencoba meraih tanganku, namun aku menepisnya.

“Kalau ini karena variety show yang aku lakukan, ini tidak boleh chagi. Kau harus tahu, ini semua hanyalah tuntutan profesiku”, ucapnya dengan tegas.

Aku benar-benar sudah muak dan bosen mendengar pembelaannya, kata-kata yang sama dari orang yang sama. Dan sungguh, jujur aku katakan aku bosan dengan itu semua.

“Mianhae oppa, kakkhe”, ucapku dengan tegas tanpa melihat nya.

“Kajima!!!”, ucap dia saat melihatku beranjak akan pergi.

“Sudahlah oppa, ini semua sudah berakhir. Aku yang bersalah karena menikah tanpa banyak pertimbangan terlebih dahulu. Tapi, ternyata aku benar-benar mencintaimu. Hal yang seharusnya tidak boleh aku lakukan”, kataku.
“Karena itu ku mohon jangan membuat aku lebih menderita lagi oppa, marilah kita berpisah dan mengakhiri semuanya sampai di sini”, lanjutku dan kemudian melangkah keluar.

Di luar ruangan aku tak mampu lagi menahan air mataku, pernikahan yang selama ini begitu ingin aku pertahankan tiba-tiba saja aku sendiri yang menghancurkannya.
Tapi ini lebih baik, karena cepat atau lambat semua ini pasti akan terjadi.

———————————————-

Aku terduduk lemas, tak ku sangka istriku akan berbuat seperti itu. Memang q yang salah, aku tidak pernah memikirkan perasaan dia selama ini. 
Aku hanya mengejar karir ku, dan untuk itu aku telah mengorbankan perasaan wanita yang mencintaiku selama ini.

“Ottokhe, ottokhe”, kataku sambil menundukkan kepalaku.

Aku tak mampu menahan kepergiaannya tadi, karena aku tahu aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa untuk mempertahankan pernikahan kami. Ku lihat kembali amplop itu, dan ku baca surat perceraian itu.
“Apakah memang harus berakhir seperti ini?..Apa memang sudah tidak ada jalan lagi untuk mempertahankan semua ini”, ucapku dalam hati.
Aku benar-benar tidak becus melakukan apapun. Lelaki apa aku ini yang tidak bisa menjaga perasaan istrinya sendiri.


———————————————————————————

Ku minum air mineral yang diberikan manajer kepadaku, tapi tiba2 saja rasa mual menyeruak dan memaksaku untuk segera lari ke toilet.

“Wuek…wuek”,aku pun memuntahkan semua yang ada di dalam perutku.

Ku cuci tanganku dan ku seka mulutku. Sudah seminggun lebih aku seperti ini, dan bisa kalian duga. Aku sedang hamil. Aku hamil di saat sedang mengurus proses perceraianku dengan Teuki oppa. 
Ah, benar-benar sesuatu yang tak pernah ku bayangkan. Ku elus perutku, entah kenapa aku merasakan kebahagiaan. Ya, meskipun aku akan berpisah dengan teuki oppa, paling tidak aku memiliki buah hati darinya. Buah hati yang akan ku jaga dengan sepenuh hati.

Tidak ada yang mengetahui kehamilanku, selain dokter yang memeriksaku tentunya…bahkan teuki oppa tidak mengetahui dan tidak akan pernah akan kubiarkan tahu semua ini.

Aku kembali ke tempat pemotretan q tadi, di sana manajer q sedang melihat-lihat foto hasil dari pemotretan. Entah apa yang sedang dibicarakan manajerku dengan  fotografer itu, yang jelas tiba2 saja kepalaku pusing sekali dan mendapati segala sesuatu nya menjadi gelap gulita.

————————————————————

Saat terbangun, aku mendapati diriku sedang terbaring di sofa tempat ruang ganti pakaian. Dan aku rasakan seseorang menggenggam tanganku dengan erat. Saat aku menoleh betapa terkejutnya aku, ternyata Teuki oppa lah yang sedang menungguiku.
Pelan-pelan ku lepaskan tanganku dari genggamannya agar dia tidak terbangun, ku sisihkan poni yang menutupi dahinya.

“Tampan sekali suamiku ini”, ucapku dalam hati dan tiba-tiba saja aku ingin menangis.
Sungguh akhir-akhir ini aku menjadi semakin cengeng saja.
Dia terbangun mendengar isak tangisku.

“Min rae-sshi, mworago? Ada yang sakit kah?. Apakah ada yang sakit dengan kandunganmu?”, kata dia dengan wajah yang diliputi kecemasan dan perasaan bersalah.

“Ottokhe?!! “, kataku.
“Sudahlah chagi, dokter yang memberi tahuku tadi bahwa kau sedang hamil”,ucapnya.

“Chagi…kenapa kau tidak memberitahuku?”, tanya dia dan menatapku dengan penuh kelembutan.

“Karena ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirimu oppa”,kataku dengan dingin.
“Ini anakku, dan karena itulah aku merasa kau tidak perlu tahu segala sesuatu tentang nya”, lanjutku.
Dia terkejut sejenak, dan kemudian melanjutkan perkataannya tadi.

“Aku tahu, sebentar lagi kita akan berpisah dan aku pun tau aku tak akan mampu membuatmu untuk menarik surat cerai itu dari pengadilan”, dia menghela nafas sejenak.

“Tapi, ijinkan aku menjadi seorang ayah yang baik untuknya..paling tidak meskipun aku tidak bisa menjadi suamimu seutuhnya, beri kesempatan aku menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab Min Rae-sshi”, ucapnya dengan tulus.

Ku lihat wajah namja itu, dan sejujurnya aku bisa meyakinkan hatiku bahwa tidak ada kebohongan di sana.. Tapi, apa yang bisa aku lakukan?, ucapku dalam hati.

“Beri aku waktu oppa, jadi untuk saat ini biarkan aku menyendiri dulu untuk memikirkan hal apa yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk bayi di dalam kandunganku ini”, kataku padanya.

“Baiklah Min Rae-sshi, beristirahatlah. Kakkhe..”, ucapnya kemudian dia beranjak pergi dari ruangan itu setelah sempat mencium dahiku sekilas.

Aku benci semua ini, aku benci karena menyadari bahwa ternyata aku begitu mencintainya… dan akhirnya aku menangis lagi sesaat setelah dia meninggalkan ruangan ini..


 ———————————- to be continued———————————————————————–


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: